Tindakan Operatif Kebidanan
A.
FORCEP EKSTRAKSI
Suatu
persalinan buatan dimana janin dilahirkan dengan suatu tarikan cunam yang
dipasang pada kepalanya.
1.Bentuk
dan bagian-bagian cuman :
1. Berupa
sepasang sendok cunam kiri dan kanan, yang satu buah sendok terdiri dari
bagian-bagian :
a. Daun
cunam
b. Tangkai
cunam
c. Pemegang
cunam
2.Jenis-jenis
cunam :
a. Type
Simpson
b. Type
Elliot
c. Type
Khusus
Seperti cunam Piper
untuk anak sunsang
3.Indikasi
Pada ibu:
-
Eklampsia, pre eklampsia, rupture uteri
membakat dan ibu dengan penyakit jantung, paru-paru, dll.
Pada janin:
-
Gawat janin
4.Waktu:
-
Kala II memanjang
5.Syarat-syarat:
1. Janin
harus dapat lahir pervaginan
2. Pembukaan
serviks lengkap
3. Kepala
janin sudah engagement
4. Kepala
janin harus dapat dipegang oleh cunam
5. Janin
hidup
6. Ketuban
sudah pecah.
6.Komplikasi:
1. Pada
ibu:
-
Perdarahan, trauma jalan lahir dan
infeksi pasca persalinan
2. Pada
janin:
-
Luka kulit kepala, cidera
sternokleidomastoideus, paralisis nevus VII sefalhematoma, subgalealhematoma
dan, frakture tulang tengkorak dan perdarahan intra kranial.
B.
VACUM EKSTRAKSI
Satu
persalinan buatan dimana janin dilahirkan dengan ekstraksi tenaga negatif
(vakum) pada kepalanya.
1.Bagian-bagian
dari vacum set:
1. Mangkok
(cup)
2. Botol
3. Karet
penghubung
4. Rantai
penghubung
5. Pemegang
(handle)
6. Pompa
penghisap (vacum pump)
2.Indikasi:
-
Pada ibu:
1. Memperpendek
kala II
2. Kala
II memanjang
-
Pada janin:
1. Gawat
janin
3.Kontra
Indikasi
-
Pada ibu:
1. Rupture
uteri membakat
2. Penyakit-penyakit
ibu tidak boleh mengejan, seperti:
Payah
jantung, Pre eklampsia berat
-
Pada janin:
1. Letak
muka
2. After
coming head
3. Janin
pre term
4.Syarat-syarat
Vacum Ekstraksi:
1. Harus
ada his dan tenaga mengejan
2. Pembukaan
lebih dari 7 cm
3. Penurunan
kepala janin boleh pada hodge II.
5.Komplikasi
Yang Mungkin Timbul:
1. Pada
ibu:
-
Perdarahan, trauma jalan lahir dan
infeksi
2. Pada
janin:
-
Ekskoreasi kulit kepala, sefalhematoma,
subgalealhematoma dan nekrosis kulit kepala.
C.SEKSIO
SESAREA
Suatu
persalinan buatan dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding
perut dan dinding rahim. Dengan syarat rahim dalam keadaan utuh dan berat janin
diatas 500gr.
1.Jenis-jenis:
1. SC
Klasik
2. SCTPP
3. SC
di ikuti dengan histerektomi
4. SC
ekstraperitoneal
5. SC
vaginal
2.Indikasi:
-
Pada ibu:
1. Panggul
sempi absolut
2. Tumor-tumor
janlan lahir yang menimbulkan abstruksi
3. Stenosis
servik/vagina
4. Plasenta
previa
5. Disproporsi
sefalopelvik
6. Ruptura
uteri membakat
-
Pada janin:
1. Kelainan
letak
2. Gawat
janin
3.Umumnya SC tidak
dilakukan pada:
1. Janin
mati
2. Syok,
amenia berat sebelum diatasi
3. Kelainan
kongenital berat (monster)
D.INDUKSI
PERSALINAN
Suatu
tindakan pada ibu hamil yang belum impartu, baik secara operatif maupun
medicinal untuk merangsang timbulnya kontraksi rahim sehingga terjadinya
persalinan.
1.Cara:
1.
Secara medis
a. Infus
oksitosin
b. Prostaglandin
c. Cairan
hipertonik intrauterin
1. Secara
operatif
a. Amniotomi
b. Melepaskan
selaput ketuban dari bagian bawah rahim
c. Pemakaian
rangkaian listrik
d. RPM
(rangsang puting mamae)
2.Indikasi:
Pada
ibu:
1. Kehamilan
dengan hipertensi
2. Kehamilan
dengan diabetes melitus
-
Pada janin:
1. Kehamilan
lewat waktu
2. Ketuban
pecah dini
3. Janin
mati
3.Kontra
Indikasi
1. Malposisi
dan malpresentasi janin
2. Insufisiensi
plasenta
3. Disproporsi
sefalopelviks
4. Cacat
rahim, seperti: bekasr SC, enukleasi mioma
5. Grande
multipara
6. Gemili
7. Distensi
rahim berlebihan, seperti pada hidramnion
8. Plasenta
previa.
4.Syarat-syarat
pemberian infus oksitosin:
1. Kehamilan
agterm
2. Ukuran
panggul normal
3. Tidak
ada CPD
4. Janin
presentasi kepala
5. Servik
sudah matang
Selain
itu perlu dihitung nilai pelvik score (Bishop skor), harga lebih dari
kemungkinan besar akan berhasil.
5.Komplikasi:
a. Tetani
uteri, ruptur uteri mambakat
b. Gawat
janin
E.Kuretase
1.
Pengertian Kuretase
Kuretase adalah
serangkaian proses pelepasan jaringan yang melekat pada dinding kavum uteri
dengan melakukan invasi dan memanipulasi instrument (sendok kuret) ke dalam
kavum uteri.
2.
Tujuan Kuretase
·
Sebagai terapi pada kasus-kasus abortus. Intinya,
kuret ditempuh oleh dokter untuk membersihkan rahim dan dinding rahim dari
benda-benda atau jaringan yang tidak diharapkan.
·
Penegakan diagnosis. Semisal mencari tahu gangguan
yang terdapat pada rahim, apakah sejenis tumor atau gangguan lain. Meski
tujuannya berbeda, tindakan yang dilakukan pada dasarnya sama saja. Begitu juga
persiapan yang harus dilakukan pasien sebelum menjalani kuret.
3. Persiapan Sebelum Kuretase
Konseling pra tindakan :
·
Memberi informed consent
·
Menjelaskan pada klien tentang penyakit yang diderita
·
Menerangkan kepada pasien tentang tindakan kuretase
yang akan dilakukan: garis besar prosedur tindakan, tujuan dan manfaat tindakan
·
memeriksa keadaan umum pasien, bila memungkinkan
pasien dipuasakan.
Pemeriksaan sebelum curretage
·
USG (ultrasonografi)
·
Mengukur tensi dan Hb darah
·
Memeriksa sistim pernafasan
·
Mengatasi perdarahan
·
Memastikan pasien dalam kondisi sehat dan fit
Persiapan tindakan
·
menyiapkan pasien
·
mengosongkan kandung kemih
·
membersihkan genetalia eksterna
·
membantu pasien naik ke meja ginek
·
Lakukanlah pemeriksaan umum : Tekanan
Darah, Nadi, Keadaan Jantung, dan Paru – paru dan sebagainya.
·
Pasanglah infuse cairan sebagai
profilaksis
·
Pada umumnya diperlukan anestesi infiltrasi local atau
umum secara IV dengan ketalar.
·
Sebelum masuk ke ruang operasi, terlebih dahulu pasien
harus dipersiapkan dari ruangan
·
Puasa: Saat akan menjalani kuretase, dilakukan puasa
4-6 jam sebelumnya. Tujuannya supaya perut dalam keadaan kosong sehingga kuret
bisa dilakukan dengan maksimal.
·
Cek adanya perdarahan
·
Dokter akan melakukan cek darah untuk mengetahui
apakah pasien mengalami gangguan perdarahan atau tidak. Jika ada indikasi
gangguan perdarahan, kuret akan ditunda sampai masalah perdarahan teratasi.
Namun tak menutup kemungkinan kuret segera dilakukan untuk kebaikan pasien.
Biasanya akan dibentuk tim dokter sesuai dengan keahlian masing-masing, dokter
kandungan, dokter bedah, dokter hematologi, yang saling berkoordinasi.
Koordinasi ini akan dilakukan saat pelaksanaan kuret, pascakuret, dan sampai
pasien sembuh.
Persiapan psikologis
Setiap ibu memiliki pengalaman
berbeda dalam menjalani kuret. Ada yang bilang kuret sangat menyakitkan
sehingga ia kapok untuk mengalaminya lagi. Tetapi ada pula yang biasa-biasa
saja. Sebenarnya, seperti halnya persalinan normal, sakit tidaknya kuret sangat
individual. Sebab, segi psikis sangat berperan dalam menentukan hal ini. Bila
ibu sudah ketakutan bahkan syok lebih dulu sebelum kuret, maka munculnya rasa
sakit sangat mungkin terjadi. Sebab rasa takut akan menambah kuat rasa sakit.
Bila ketakutannya begitu luar biasa, maka obat bius yang diberikan bisa tidak
mempan karena secara psikis rasa takutnya sudah bekerja lebih dahulu. Walhasil,
dokter akan menambah dosisnya.
Sebaliknya, bila saat akan dilakukan
kuret ibu bisa tenang dan bisa mengatasi rasa takut, biasanya rasa sakit bisa
teratasi dengan baik. Meskipun obat bius yang diberikan kecil sudah bisa
bekerja dengan baik. Untuk itu sebaiknya sebelum menjalani kuret ibu harus
mempersiapkan psikisnya dahulu supaya kuret dapat berjalan dengan baik.
Persiapan psikis bisa dengan berusaha menenangkan diri untuk mengatasi rasa
takut, pahami bahwa kuret adalah jalan yang terbaik untuk mengatasi masalah
yang ada. Sangat baik bila ibu meminta bantuan kepada orang terdekat seperti
suami, orangtua, sahabat, dan lainnya. Bila diperlukan, gunakan jasa psikolog
apabila ibu tak yakin dapat mengatasi masalah ini sendirian.
·
Mengganti baju pasien dengan baju operasi
·
Memakaikan baju operasi kepada pasien dan gelang
sebagai identitas
·
Pasien dibawa ke ruang operasi yang telah ditentukan
·
Mengatur posisi pasien sesuai dengan jenis tindakan
yang akan dilakukan, kemudian pasien dibius dengan anesthesi narkose
·
Setelah pasien tertidur, segera pasang alat bantu napas
dan monitor EKG
·
Bebaskan area yang akan dikuret
Persiapan petugas
·
mencuci tangan dengan sabun antiseptic
·
baik dokter maupun perawat instrumen melakukan cuci
tangan steril
·
memakai perlengkapan : baju operasi, masker dan
handscoen steril
·
Perawat instrumen memastikan kembali kelengkapan
alat-alat yang akan digunakan dalamtindakan kuret
·
Alat disusun di atas meja mayo sesuai dengan urutan
4. Persiapan
alat dan obat :
a)
Alat tenun, terdiri dari :
·
baju operasi
·
laken
·
doek kecil
·
sarung meja mayo
b)
Alat-alat kuretase hendaknya telah tersedia alam bak
alat dalam keadaan aseptic berisi :
·
Speculum dua buah (Spekullum cocor bebek (1) dan
SIMS/L (2) ukuran S/M/L) speculum 2 Buah.
·
Sonde (penduga) uterus: untuk mengukur kedalaman rahim,
untuk mengetahui lebarnya lubang vagina.
·
Cunam muzeus atau Cunam porsio
·
Berbagai ukuran busi (dilatator) Hegar
·
Bermacam – macam ukuran sendok kerokan (kuret 1 SET)
·
Cunam tampon (1 buah)
·
Pinset dan klem
·
Kain steril, dan sarung tangan dua pasang.
·
Menyiapkan alat kuret AVM
·
Ranjang ginekologi dengan penopang kaki
·
Meja dorong / meja instrument
·
Wadah instrumen khusus ( untuk prosedur AVM )
·
AVM Kit (tabung, adaptor, dan kanula)
·
Tenakulum (1 buah)
·
Klem ovum/fenster (2 buah)
·
Mangkok logam
·
Dilagator/ busi hegar (1 set)
·
Lampu sorot
·
Kain atas bokong dan penutup perut bawah
·
Larutan anti septik (klorheksidin, povidon iodin,
lkohol)
·
Tensimeter dan stetoskop
·
Sarung tangan DTT dan alas kaki
·
Set infus
·
Abocatt
·
Cairan infus
·
Wings
·
Kateter Karet 1 buah
·
Spuit 3 cc dan 5 cc
c)
Obat-obatan :
·
Analgetik ( petidin 1-2 mg/Kg BB
Indikasi:Nyeri sedang sampai berat, nyeri pasca bedah
Kontra indikasi:Depresi pernafasan akut, alkoholisme akut, penyakit perut akut, peningkatan
tekanan otak atau cedera kepala Efek samping:Mual, muntah, konstipasi, ketergantungan / adiksi pada over
dosis menimbulkan Sediaan Petidin (generik) injeksi 50 mg/ml, tabl 50 mg
·
Ketamin HCL 0.5 ml/ Kg BB
Ketamine (Ketalar or Ketaject)
merupakan arylcyclohexylamine yang memiliki struktur mirip dengan
phencyclidine. 11 Ketamin pertama kali disintesis tahun 1962, dimana awalnya
obat ini disintesis untuk menggantikan obat anestetik yang lama (phencyclidine)
yang lebih sering menyebabkan halusinasi dan kejang. Ketamin hidroklorida
adalah golongan fenil sikloheksilamin, merupakan “rapid acting non barbiturate
general anesthesia”. Ketamin kurang digemari untuk induksi anastesia, karena
sering menimbulkan takikardi, hipertensi , hipersalivasi , nyeri kepala, pasca
anasthesi dapat menimbulkan muntah – muntah , pandangan kabur dan mimpi buruk.
Ketamin juga sering menebabkan terjadinya disorientasi, ilusi sensoris dan
persepsi dan mimpi gembira yang mengikuti anesthesia, dan sering disebut dengan
emergence phenomena.
Mekanisme
kerja:Beberapa kepustakaan menyebutkan
bahwa blok terhadap reseptor opiat dalam otak dan medulla spinalis yang
memberikan efek analgesik, sedangkan interaksi terhadap reseptor metilaspartat
dapat menyebakan anastesi umum dan juga efek analgesik.
Efek
farmakologis: Efek pada susunan saraf pusat. Apabila diberikan
intravena maka dalam waktu 30 detik pasien akan mengalami perubahan tingkat
kesadaran yang disertai tanda khas pada mata berupa kelopak mata terbuka
spontan dan nistagmus. Selain itu kadang-kadang dijumpai gerakan yang tidak
disadari, seperti gerakan mengunyah, menelan, tremor dan kejang. Apabila
diberikan secara intramuskular, efeknya akan tampak dalam 5-8 menit, sering
mengakibatkan mimpi buruk dan halusinasi pada periode pemulihan sehingga pasien
mengalami agitasi. Aliran darah ke otak meningkat, menimbulkan peningkatan
tekanan darah intrakranial.
Efek pada
mata:Menimbulkan lakrimasi, nistagmus dan kelopak mata terbuka spontan, terjadi
peningkatan tekanan intraokuler akibat peningkatan aliran darah pada pleksus
koroidalis.
Efek pada
sistem kardiovaskular:Ketamin adalah obat anestesia yang bersifat
simpatomimetik, sehingga bisa meningkatkan tekanan darah dan jantung.
Peningkatan tekanan darah akibat efek inotropik positif dan vasokonstriksi
pembuluh darah perifer.
Efek pada
sistem respirasi:Pada dosis biasa, tidak mempunyai pengaruh terhadap
sistem respirasi. dapat menimbulkan dilatasi bronkus karena sifat
simpatomimetiknya, sehingga merupakan obat pilihan pada pasien ashma.
Dosis dan
pemberian:Ketamin merupakan obat yang dapat diberikan secara intramuskular apabila
akses pembuluh darah sulit didapat contohnya pada anak – anak. Ketamin bersifat
larut air sehingga dapat diberikan secara I.V atau I.M. dosis induksi adalah 1
– 2 mg/KgBB secara I.V atau 5 – 10 mg/Kgbb I.M , untuk dosis sedatif lebih
rendah yaitu 0,2 mg/KgBB dan harus dititrasi untuk mendapatkan efek yang
diinginkan. Untuk pemeliharaan dapat diberikan secara intermitten atau
kontinyu. Emberian secara intermitten diulang setiap 10 – 15 menitdengan dosis
setengah dari dosis awal sampai operasi selesai.
Efek samping:Dapat
menyebabkan efek samping berupa peningkatan sekresi air liur pada mulut,selain
itu dapat menimbulkan agitasi dan perasaan lelah , halusinasi dan mimpi buruk
juga terjadi pasca operasi, pada otot dapat menimbulkan efek mioklonus pada
otot rangka selain itu ketamin juga dapat meningkatkan tekanan intracranial.
Pada mata dapat menyebabkan terjadinya nistagmus dan diplopia.
Kontra
indikasi:Mengingat efek farmakodinamiknya yang relative kompleks seperti yang telah
disebutkan diatas, maka penggunaannya terbatas pada pasien normal saja. Pada
pasien yang menderita penyakit sistemik penggunaanya harus dipertimbangkan
seperti tekanan intrakranial yang meningkat, misalnya pada trauma kepala, tumor
otak dan operasi intrakranial, tekanan intraokuler meningkat, misalnya pada
penyakit glaukoma dan pada operasi intraokuler. Pasien yang menderita penyakit
sistemik yang sensitif terhadap obat – obat simpatomimetik, seperti ;
hipertensi tirotoksikosis, Diabetes militus , PJK dll.
·
Tramadol 1-2 mg/ BB
Indikasi:Nyeri sedang
sampai berat
Kontra indikasi:Depresi
pernafasan akut, alkoholisme akut, penyakit perut akut, peningkatan tekanan
otak atau cedera kepala.
Efek samping:Mual,
muntah, konstpasi, ketergantungan / adiksi pada over dosis menimbulkan
keracunan dan dapat menyebabkan kematian. Sediaan Tramadol (generik) injeksi 50
mg/ml, tablet 50 mg
·
Sedativa ( diazepam 10 mg).
Indikasi:Pemakaian
jangka pendek pada ansietas atau insomnia, tambahan pada putus alkohol akut,
status epileptikus, kejang demam, spasme otot.
Cara Pemberian:Injeksi i.m
atau injeksi i.v lambat : (kedalam vena besar dengan kecepatan tidak lebih dari
5 mg/menit)untuk ansietas akut berat, pengendalian serangan panik akut,
penghentian alkohol akut, 10 mg, jika perlu ulangi setelah 4 jam.Catatan : Rute
i.m hanya digunakan jika rute oral dan i.v tidak mungkin diberikan.
Kontraindikasi:Depresi
pernafasan, gangguan hati berat, miastenia gravis, insufisiensi pulmoner akut,
glaukoma sudut sempit akut, serangan asma akut, trimester pertama kehamilan,
bayi prematur; tidak boleh digunakan sebagai terapi tunggal pada depresi atau
ansietas yang disertai dengan depresi.
Efek Samping:Efek samping
pada susunan saraf pusat : rasa lelah, ataksia, rasa malas, vertigo, sakit
kepala, mimpi buruk dan efek amnesia. Efek lain : gangguan pada saluran
pencernaan, konstipasi, nafsu makan berubah, anoreksia, penurunan atau kenaikan
berat badan, mulut kering, salivasi, sekresi bronkial atau rasa pahit pada
mulut.
·
Atropine sulfas 0.25- 0.50 mg/ml
Indikasi:Spasme/kejang
pada kandung empedu, kandung kemih dan usus, keracunan fosfor organik.
Kontraindikasi:Glaukoma
sudut tertutup, obstruksi/sumbatan saluran pencernaan dan saluran kemih, atoni
(tidak adanya ketegangan atau kekuatan otot) saluran pencernaan, ileus
paralitikum, asma, miastenia gravis, kolitis ulserativa, hernia hiatal,
penyakit hati dan ginjal yang serius.
5.
Perawatan Setelah Kuretase
Perawatan usai kuretase pada umumnya sama dengan operasi-operasi lain.
Harus menjaga bekas operasinya dengan baik, tidak melakukan aktivitas yang
terlalu berat, tidak melakukan hubungan intim untuk jangka waktu tertentu
sampai keluhannya benar-benar hilang, dan meminum obat secara teratur. Obat
yang diberikan biasanya adalah antibiotik dan penghilang rasa sakit. Jika
ternyata muncul keluhan, sakit yang terus berkepanjangan atau muncul
perdarahan, segeralah memeriksakan diri ke dokter. Mungkin perlu dilakukan
tindakan kuret yang kedua karena bisa saja ada sisa jaringan yang tertinggal.
Jika keluhan tak muncul, biasanya kuret berjalan dengan baik dan pasien tinggal
menunggu kesembuhannya.
Hal-hal yang
perlu juga dilakukan:
·
Setelah pasien sudah dirapihkan, maka perawat
mengobservasi keadaan pasien dan terus memastikan apakah pasien sudah bernapas
spontan atau belum
·
Melakukan observasi keadaan umum pasien hingga
kesadaran pulih
·
Pasien diberikan oksigen 2 liter/menit melalui nasal
kanule dan tetap observasi keadaan pasien sampai dipindahkan ke ruangan
perawatan.
·
Konseling pasca tindakan
·
Melakukan dekontaminasi alat dan bahan bekas operasi
6.
Dampak Setelah Kuretase
Terkadang kuret tidak berjalan lancar. Meskipun telah dilakukan oleh dokter
kandungan yang sudah dibekali ilmu kuret namun kekeliruan bisa saja terjadi.
Bisa saja pada saat melakukannya dokter kurang teliti, terburu-buru, atau
jaringan sudah kaku atau membatu seperti pada kasus abortus yang tidak
ditangani dengan cepat. Berikut adalah dampaknya:
a.
Perdarahan
Bila saat
kuret jaringan tidak diambil dengan bersih, dikhawatirkan terjadi perdarahan.
Untuk itu jaringan harus diambil dengan bersih dan tidak boleh tersisa sedikit
pun. Bila ada sisa kemudian terjadi perdarahan, maka kuret kedua harus segera dilakukan.
Biasanya hal ini terjadi pada kasus jaringan yang sudah membatu. Banyak dokter
kesulitan melakukan pembersihan dalam sekali tindakan sehingga ada jaringan
yang tersisa. Namun biasanya bila dokter tidak yakin sudah bersih, dia akan
memberi tahu kepada si ibu, “Jika terjadi perdarahan maka segera datang lagi ke
dokter.”
b.
Cerukan di Dinding Rahim
Pengerokan
jaringan pun harus tepat sasaran, jangan sampai meninggalkan cerukan di dinding
rahim. Jika menyisakan cerukan, dikhawatirkan akan mengganggu kesehatan rahim.
c.
Gangguan Haid
Jika
pengerokan yang dilakukan sampai menyentuh selaput otot rahim, dikhawatirkan
akan mengganggu kelancaran siklus haid.
d.
Infeksi
Jika
jaringan tersisa di dalam rahim, muncul luka, cerukan, dikhawatirkan bisa
memicu terjadinya infeksi. Sebab, kuman senang sekali dengan daerah-daerah yang
basah oleh cairan seperti darah.
e.
Kanker
Sebenarnya kecil kemungkinan terjadi kanker, hanya sekitar 1%. Namun bila
kuret tidak dilakukan dengan baik, ada sisa yang tertinggal kemudian tidak mendapatkan
penanganan yang tepat, bisa saja memicu munculnya kanker. Disebut kanker
trofoblast atau kanker yang disebabkan oleh sisa plasenta yang ada di dinding
rahim.
F.PERTOLONGAN
SUNGSANG
Persalinan pada
bayi dengan presentasi bokong (sungsang) di mana bayi letaknya sesuai dengan
sumbu badan ibu, kepala berada pada fundus uteri sedangkan bokong merupakan
bagian terbawah (di daerah pintu atas panggul/simfisis).
Jenis
jenis Pertolongan Sungsang
1. Persalina
pervagina
a. Persalinan
Spontan (spontan breech)
Pada persalilan ini,
janin dilahirkan dengan kekuatan dan tenaga ibu sendiri. Cara ini biasa disebut
dengan cara Bracht.
Tahapan:
1. Fase
lambat, yaitu mulai lahirnya bokong dampai ke pusar. Disebut fase lambat karena
fase ini hanya untuk melahirkan bokonh, yaitu bagian janin yang tidak
berbahaya.
2. Fase
cepat, yaitu mulai dari lahirnya pusar sampai lahirnya mulut. Disebut fase
cepat karena pada fase ini kepala janin mulai masuk pintu atas panggul,
sehingga kemungkinantali pusar terjepit. Oleh karena itu fase ini harus segera
diselesaikan dan tali pusar segera dilonggarkan. Bila mulut sudah lahir, janin
dapat bernafas lewat mulut.
3. Fase
lambat, yaitu mulai lahirnya mulut sampai ke seluruh kepala lahir. Disebut fase
lambat karena kepala akan keluar dari ruangan yang bertekanan tinggi, ke dunia
luar yang tekananya lebih rendah, sehingga kepala harus dilahirkan secara
perlahan untuk menghindari terjadinya perdarahan intra kranial.
Teknik:
1. Sebelum
melakukan pimpinan persalinan penolong harus memperhatikan sekali lag persiapan
untuk ibu, janin, maupun penolong. Pada persiapan kelahiran janin harus
disediakan cunam piper.
2. Ibu
tidur dalam posisi litotomo, sedang penolong berdiri di depan vulva. Ketika
timbul his ibu disuruh mengejan dengan merangkul kedua paha. Pada waktu bokonh
mulai membuka vulva, disuntikan 2-5 unit oksitosin intra muskulus. Pemberian
oksitosin ini ialah untuk merangsang kontraksi rahim sehingga fase cepat dapat
diselesaikan dalam 2 his berikutnya.
3. Episiostomi
dikerjakan pada saat bokong membuka vulva. Segera setelah bokong lahir, bokong
dicengkam secara Bracht, yaitu kedua ibu jari penolong sejajar sumbu panjang
paha,sedangkan jari jari lain memegang panggul.
4. Pada
setiap his ibu disuruh mengejan. Apda waktu tali pusat lahir dan tampak sangat
tegang, tali pusat dikendorkan lebih dahulu.
5. Kemudian
penolong melakukan hiperlordosis pada janin guna mengikuti gerakan rotasi
anterior, yaitu punggung janin didekatkan ke perut ibu. Penolong hanya
mengikuti gerakan dan gaya berat badan janin. Bersamaan dengan dimulainya
gerakan hiperlodosis, sesuai dengan sumbu panggul. Maksud ekspresi kristelelr
ini ialah:
·
agar tenaga mengejan lebih kuat,
sehingga fase cepat dapa segera diselesaikan (berakhir)
·
menajga agar kepala janin tetap dalam
posisi fleksi
·
menghindari terjadinya ruang kosong
antara fundus uterus dan kepala janin, sehingga tidak terjadi lengan
menjungkit.
6. Dengan
gerakan hiperlodosis ini berturut-turut lahir pusar, perut, bahu dan lengan,
dagu,mulut dan akhirnya seluruh kepala.
7. Janin
yang baru lahir diletakkan di perut ibu. Seorang asisten segera menghisap
lendir dan bersamaan itu penolog memotong tali pusar.
8. Keuntungan:
a. Tangan
penolong tidak masuk ke jalan lahir, sehingga mengurangi bahaya infeksi
b. Cara
ini adalah cara yang paling mendekati persalinan fisiologik, sehingga
mengurangi trauma pada janin
9. Kerugian
a. 5-10%
persalinan secara Bracht mengalami kegagalan sehingga tidak semua persalinan
letak sungsang dapat dipimpin dengan cara Bracth
b. Persalinan
secara Bracth mengalami kegagalan trauma dalam keadaan panggul sempit,janin
besaar,jalan lahir kaku misalnya pada primigravida, adanya lengan menjungkit
atau menunjuk.
b. Manual
aid
Pada persalinan ini,
janin dilahirkan dengan sebagian tenaga dan kekuatan ibu dan sebagian lagi
dengan tenaga penolong.
Tahapan:
1. Tahap
pertama, Lahirnya bokong sampai pusar yang dilahirkan dengan kekuatan tenaga
ibu sendiri
2. Tahap
kedua,Lahirnya bahu dan lengan yang memakai tenaga penolong. Cara/teknik untuk
melahirkan bahu dan lengan ialah :
a. Klasik (yang seringkali disebut Deventer).
b. Mueller.
c. Lovset.
d. Bickenbach.
3. Tahap ketiga, lahirnya kepala.
Kepala dapat dilahirkan dengan cara:
a.
Mauriceau (Veit-Smellie).
b.
Najouks.
c.
Wigand Martin-Winckel.
d.
Prague terbalik.
e.
Cunam Piper.
4. Teknik
Tahap pertama : dilakukan persalinan secara Bracht sampai pusar
lahir
Tahap kedua :
melahirkan bahu dan lengan oleh penolong.
Cara Klasik
1. Prinsip melahirkan bahu dan lengan
secara klasik ini ialah melahirkan lengan belakang lebih dahulu, karena lengan
belakang berada di ruangan yang lebih luas (sakrum), baru kemudian melahirkan
lengan depan yang berada di bawah simfisis. Tetapi bila lengan depan sukar
dilahirkan, maka lengan depan diputar menjadi lengan belakang, yaitu dengan
memutar gelang bahu ke arah belakang dan baru kemudian lengan belakang ini
dilahirkan.
2. Kedua kaki janin dipegang dengan tangan kanan penolong pada pergelangan
kakinya dan dielevasi ke atas sejauh mungkin, sehingga perut janin mendekati
perut ibu.
3.
Bersamaan dengan iru tangan kiri penolong
dimasukkan ke dalam jalan lahir dan dengan jari tengah dan telunjuk menelusuri
bahu janin sampai pada fosa kubiti kemudian lengan bawah dilahirkan dengan
gerakan seolah-olah lengan bawah mengusap muka janin.
4. Untuk melahirkan lengan depan, pegangan pada pergelangan kaki janin diganti
dengan tangan. kanan penolong dan ditarik curam ke bawah sehingga punggung
janin mendekati punggung ibu.
5. Dengan cara yang sama lengan depan dilahirkan.
6. Bila lengan depan sukar dilahirkan, maka harus diputar menjadi lengan belakang.
Gelang bahu dan lengan yang sudah lahir dicengkam dengan kedua tangan penolong
sedemikian rupa sehingga kedua ibu jari tangan penolong terletak di punggung
dan sejajar dengan sumbu badan janin sedaiig jari-jari lain mencengkam dada.
Putaran diarahkan ke perut dan dada janin, sehingga lengan depan terletak di
belakang. Kemudian lengan belakang ini dilahirkan dengan teknik tersebut di
atas.
7. Deventer melakukan cara Klasik ini dengan tidak mengubah lengan depan
menjadi lengan belakang. Cara ini lazim disebut cara Deventer. Keuntungan cara
Klasik ialah pada umumpya dapat dilakukan pada semua persalinan letak sungsang,
tetapi kerugiannya ialah lengan janin masih relatif tinggi di dalam panggul,
sehingga jari penolong harus masuk ke dalam jalan lahir yang dapat menimbulkan
infeksi.
Cara Mueller
1. Prinsip melahirkan bahu dan lengan
secara Mueller ialah melahirkan bahu dan lengan depan lebih dahulu dengan
ekstraksi, baru kemudian melahirkan bahu dan lengan belakang.
2. Bokong janin dipegang secara femuro-pelviks (duimbekken greep) yaitu kedua
ibu jari penolong diletakkan sejajar spina sakralis media dan jari telunjuk
pada krista iliaka dan jari-jari lain mencengkam paha bagian depan. Dengan
pegangan ini badan janin ditarik curam ke bawah sejauh mungkin sampai bahu
depan tampak di bawah simfisis, dan lengan depan dilahirkan dengan mengait
lengan bawahnya.
3.
Setelah bahu depan dan lengan depan lahir, maka badan
janin yang masih dipegang secara femuro-pelviks ditarik ke atas, sampai bahu
belakang lahir. Bila bahu belakang tidak lahir dengan sendirinya, maka lengan
belakang dilahirkan dengan mengait lengan bawah dengan kedua jari penolong.
Keuntungan dengan teknik Mueller ini ialah tangan penolong tidak masuk jauh ke
dalam jalan lahir, sehingga bahaya infeksi minimal.
Cara Lovset
1. Prinsip persalinan secara Lovset ialah memutar badan janin dalam setengah
lingkaran bolak-balik sambil dilakukan traksi curam ke bawah sehingga bahu yang
sebelumnya berada di belakang akhirnya lahir di bawah simfisis. Hal ini
berdasarkan kenyataan bahwa adanya inklinasi antara pintu atas panggul dengan
sumbu panggul dan bentuk lengkungan panggul yang mempunyai lengkungan depan lebih
pendek dari lengkungan di belakang, sehingga setiap saat bahu belakang selalu
dalam posisi lebih rendah dari bahu depan.
2. Badan janin dipegang secara femuro-pelviks dan sambil dilakukan traksi
curam ke bawah badan janin diputar setengah lingkaran, sehingga bahu belakang
menjadi bahu depan. Kemudian sambil dilakukan traksi, badan janin diputar
kembali kearah yang belawanan setengah lingkaran, demikian seterusnya
bolak-balik, sehingga bahu belakang tampak di bawah simfisis dan lengan dapat
dilahirkan.
3.
Bila lengah japin tidak dapat lahir dengan
sendirinya, maka lengan janin ini dapat, dilahirkan dengan mengait lengan bawah
dengan jari penolong.
4. Keuntungan cara Lovset.
a. Teknik yang sederhana dan jarang gagal.
b. Dapat dilakukan pada segala macam letak sungsang tanpa memperhatikanposisi
lengan.
c. Tangan penolong tidak masuk ke dalam jalan lahir, sehingga bahaya infeksi
minimal.
5. Cara Lovset ini dianjurkan dalam memimpin persalinan letak sungsang pada
keadaan-keadaan di mana diharapkan akan terjadi kesukaran, misalnya:
a. Primigravida.
b. Janin yang besar.
c. Panggulyang relatif sempit.
Cara
Bickenbach’s
Prinsip persalinan secara Bickenbach’s ialah merupakan kombinasi antara
cara Muller dengan cara Klasik. Teknik ini hampir sama dengan cara Klasik.
Melahirkan lengan
menunjuk (uchal arm)
1. Yang dimaksud lengan menunjuk ialah bila salah satu lengan janin melingkar
di belakang leher dan menunjuk ke suatu arah. Berhubung dengan posisi lengan
semacam ini tidak mungkin dilahirkan karena tersangkut di belakang lener, maka
lengan tersebut harus dapat diubah sedemikian rupa, sehingga terletak di depan
dada.
2. Bila lengan belakang yang menunjuk, maka badan atas janin dicengkam dengan
kedua tangan penolong, sehingga kedua ibu jari diletakkan pada punggung janin
sejajar sumbu panjang badan. Sedang jari-jari lain mencengkam dada. Badan anak
diputar searah dengan arah lengan menunjuk ke arah belakang (sakrum), sehingga
lengan tersebut terletak di depan dada dan menjadi lengan belakang. Kemudian
lengan ini dilahirkan dengan cara Klasik.
3. Bila lengan depan yang menunjuk, maka dilahirkan dengan cara yang sama,
hanya cara memegang badan atas dibalik, yaitu ibu jari diletakkan di dada dan
jari lain mencengkam punggung.
Cara Prague terbalik
Teknik Prague terbalik dipakai
bila oksiput dengan ubun-ubun kecil berada di belakang dekat sakrum dan muka
janin menghadap simfisis. Satu tangan penolong mencengkam leher dari arah bawah
dan punggung janin diletakkan pada telapak tangan penolong. Tangan penolong
yang lain memegang kedua pergelangan kaki. Kaki janin ditarik ke atas bersamaan
dengan tarikan pada bahu janin, sehingga perut janin mendekati perut ibu.
Dengan taring sebagai hipomoklion, kepala janin dapat dilahirkan.
Cara cunam Piper
1.
Cunam Piper
dibuat khuius untuk melahirkan kepala janin pada letak sungsang, sehingga
mempunyai bentuk khusus, yaitu:
a. Daun cunam berfenestra, yang mempunyai lengkungan panggul yang agak mendatar
(baik untuk pemasangan yang tinggi).
b. tangkainya panjang, melengkung ke atas dan terbuka, keadaan ini dapat
menghindari kompresi yang berlebihan pada kepala janin.
2. Seorang asisten memegang badan janin pada kedua kaki, dan kedua lengan
janin diletakkan di punggung janin. Kemudian badan janin dielevasi ke atas,
sehingga punggung janin mendekati punggung ibu.
3. Pemasangan cunam pada after coming bead tekniknya sama dengan
pemasangan cunam pada letak belakang kepala. Hanya pada kasus ini cunam
dimasukkan dari arah bawah, yaitu sejajar dengan pelipatan paha belakang.
Setelah suboksiput. Tampak di bawah simfisis, maka cunam dielevasi ke atas dan
dengan suboksiput sebagai hipomoklion, berturut-turut lahir dagu, mulut, muka,
dahi dan akhirnya seluruh kepala lahir
c. Ekstraksi
sungsang
Pada persalinan ini,
janin dilahirkan seluruhnya dengan memakai tenaga penolong.
Teknik ekstraksi kaki :
1) Setelah
persiapan selesai, tangan yang searah dengan bagian bagian kecil janin
dimasukan secara obstetrik ke dalam jalan lahir, sedang tangan yang lain
membuka labia. Tangan yang didalam mencari kaki depan dengan menelusuri
bokong,pangkal paha sampai lutut, kemudian melakukan abduksi dan fleksi pada
paha janin sehingga kaki bawah menjadi fleksi. Tangan yang diluar mendorong
fundus uterus ke bawah. Setelah kaki bawah fleksi pergelangan kaki dipegang
oleh jari kedua dan ajri ketiga dan di tuntun keluar vagina sampai batas lutut.
2) Kedua
tangan penolong memegang betis janin, yaitu kedua ibu jari diletakan di
belakang betis sejajar sumbu panjang betis, dan jari jari yang lain di depan
betis. Dengan pegangan ini, kaki janin ditarik curam ke bawah sampai pangkal
paha lahir.
3) Pegangan
dipindahkan pada pangkal paha setinggi mungkin dengan kedua ibu jari di
belakang paha, sejajar sumbu panjang paha dan jari jari lain di depan paha.
4) Pangkal
paha ditarik curam ke bawah sampai trokhanter depan lahir. Kemudian pangkal
paha dengan pegangan yang sama di elevasi ke atas sehingga trokhanter belakang
lahir. Bila kedua trokhanter telah lahir bearti bokong lahir.
5) Sebaliknya
bila kaki belakang yang dilahirkan lebih dulu, maka yang akan lahir lebih dulu
ialah trokhanter belakang dan untuk melahirkan trokhanter depan maka pangkal
paha ditarik terus curam ke bawah.
6) Setelah
bokong lahir maka untuk melahirkan janin selanjutnya dipakai teknik pegangan
femuro-pelviks. Dengan pegangan ini badan janin ditarik curam sampai ke pusar
lahir
7) Selanjutnya
untuk melahirkan badan janin yang lain dilakukan cara persalinan yang sama
seperti pada manual aid.
Teknik Ekstrasi Bokong.
1) Ekstrasi
bokong dikerjakan bila jenis letak sungsang adalah letak bokong murni, dan
bokong sudah berada di dasar panggul, sehingga sukar untuk menurunkan kaki
2) Jari
telunjuk tangan penolong yang searah dengan bagian kecil janin, dimasukan ke
dalam jalan lahir dan diletakan di perlipatan paha depan. Dengan jari telunjuk
ini, perlipatan paha dikaitkan dan ditarik curam ke bawah. Untuk memperkuat tenaga
tarikan ini, maka tangan penolong yang lainmencengkam pergelangan tangan tadi,
dan turut menarik curam ke bawah.
3) Bila
dengan tarikan ini trochanter depan mulai tampak di bawah simfisis, maka jari
telunjuk penolong lain segera mengait perlipatan paha ditarik curam ke bawah
sampai bokong lahir.
4) Setelah
bokong lahir, bokong dipegang secara femuro-pelviks, kemudian janin dapat
dilahirkan dengan cara manual aid.
Penyulit:
1) Sufokasi.
Bila sebagian besar badan janin sudah lahir, terjadilah pengecilan rahim sehingga
terjadi gangguan sirkulasi plasenta dan menimbulkan anoksia janin. Keadaan ini
merangsang janin untuk bernafas. Akibatnya darah,mukus,cairan amnion dan
mekonium akan di aspirasi, yang dapat menimbulkan sufokasi. Badam janin yang
sebagian sudah berada di luar rahim, juga merupakan rangsangan yang kuat untuk
bernafas.
2) Asfiksia
fetalis. Selain akibat mengecilnya uterus pada waktu badan janin lahir, yang
menimbulkan anoksia, maka anoksia di perberat lagi, dengan bahaya terjepitnya
tali pusat pada waktu kepala masuk panggul.
2. Persalinan
per abdominan (seksio sesarea)
a. Persalinan
letak sungsang dengan seksio sesarea sudah tentu merupakan cara yang terbaik
ditinjau dari janin. Banyak ahli melaporkan bahwa persalinan letak sungsang
pervagina, memberi trauma yang sangat bearti bagi janin, yang gejala-gejalanya
akan tampak baik pada waktu persalinan maupun baru di kemudian hari.
b. Namun
hal ini tidak bearti bahwa semua letak sungsang harus dlahirkan per abdominan.
Untuk melakukan penilaian apakah letak sungsang dapat melahirkan pervagina atau
harus perabdominan kadang-kadang sukang.
c. Beberapa
kriteria yang dapat dipakai pegangan bahwa letak sungsang harus dilahirkan per
abdominan misalnya :
·
Primigravida tua
·
Nilai sosial janin tinggi
·
Riwayat persalinan yang buruk
·
Janin besar, lebih dari 3,5 kg
·
Dicurigai adanya kesempitan panggul
·
Prematuritas
G.EMBRIOTOMI
embriotomi adalah suatu persalinan buatan dengan
cara merusak atau memotong bagian-bagian tubuh janin agar dapat lahir pervagina
tanpa melukai ibu. Dengan indikasi janin mati, dan ibu dalam keadaan bahaya
atau janin mati yang tak mungkin lahir spontan pervagina.
a. Jenis
jenis Embriotomi
·
Kraniotomi adalah sautu tindakan yang
memperkecil ukuran kepala janin dengan cara melubangi tengkorak janin dan
mengeluarkan isi tengkorak, sehingga janin dapat dengan mudah lahir pervagina
·
Dekapitasi adalah suatu tindakan
memisahkan kepala janin dari tubuhnya dengan cara memotong leher janin
·
Kleidotomi adalah suatu tindakan untuk
memotong atau mematahkan 1 atau 2 kliavikula, guna mengecilkan lingkaran bahu.
·
Eviserasi/eksenterasi adalah suatu
tindakan merusak dinding abdomen untuk mengeluarkan organ-organ visera.
·
Spondilotomi adalah suatu tindakan
memotong ruas-ruas tulang belakang.
·
Pungsi adalah suatu tindakan
mengeluarkan cairan dari tubuh janin.
b. Prosedur
dalam embriotomi
Teknik
Kraniotomi
1. Tangan
kiri dimasukan ke dalam jalan lahir dengan cara obstetrik dan diletakan di
bawah simfisis guna melindungi kandung kemih dan ureter. Seorang asisten
menahan kepala janin dari luar. Mula mula dibuat lubang pada ubun ubun besar,
atau sutura sagitalis dengan skapel. Kemudian perforator neagle dimasukan
secara harisontal dengan bagian lengkung menghadap ke atas ddan dalam keadaan
tertutup, di bawah lindungan tangan kiri tadi, dan ujung perforator dimasukan
ke dalam lubang insisi skalpel.
2.
Melubangi
kepala janin dapat juga dikerjakan secara langsung dengan perforator neagele.
Caranya sama seperti diterangkan di atas, hanya perforasi kepala dikerjakan
langsung dengan menekan ujung perforator pada ubun ubun besar.
3. Agar
ujung peroforator tidak meleset pada waktu ditusukan pada kepala janin, maka
arah perforator harus tegak lurus dengan permukaan kepala janin.
4. Perforator
dikeluarkan dengan lindungan tangan krii. Setelah kraniotomi dikerjakan,
jaringan otak tidak perlu dikeluarkan, karena akan keluar dengan sendirinya
pada waktu ektraksi kepala.
5. Ekstraksi
kepala dapat dikerjakan dengan cunam Muzeeaux 2 bauh, atau kranioklas, misalnya
kranioklas braun.
6. Ekstraksi
dengan cunam Muzeaux boleh dikerjakan bila maserasi janin masih tingkat 1. Pada
keadaan ini kulit kepala masih cukup kuat, atau kepala janin sudah di pintu
bawah panggul.
7. Dengan
memakai spekulum, kulit kepala jain secara langsung dijepit selebar dan sedalam
mungkin dengan 2 cunam Muzeaux, satu di atas lubang perforasi dan satu di
bawahnya. Setelag kedua cunam menjepit kulit kepala janin dengan baik,
dilakukan tarikan searah dengan sumbu panggul, sambil mengikuti putaran paksi
dalam. Setelah suboksiput berada di bawah simfisis, maka kepala janin di elevasi
ke atas, sehingga berturut-turut lahir ubun ubun besar,dahi, muka dan dagu.
Setelah kepala lahir, badan janin dilahirkan sebagaimana biasanya.
8. Untuk
melakukan ekstraksi kepala dengan kranioklas, yang dipakai ialah kranioklas
Braun. Mula mula tangan kiri dimasukan ke dalam jalan lahir. Sendok jantan
dipegang oleh tangan kanan secara horizontal dengan bagian yang bergerigi
bagian melengkung emnghadap atas, dan dimasukan ke dalam lubang perforasi
sejauh mungkin. Bagian yang melngkung kemudian diarahkan ke muka janin. Seorang
asisten memegang sendok jantan ini. Sendok betina dimasukan seperti memasukan
sendok cunam, yaitu dipegang secara memegang pensil sejajar dengan pelipatan
paha depan dan dimasukan ke dalam jalan lahir sedemikian rupa, sehingga daun kranioklas
betina terletak di muka janin.
9. Kedua
sendok kranioklas ditutup. Dilakukan pemeriksaan dalam ulangan, untuk memeriksa
apakah terdapat bagian bagian jalan lahir yang terjepit dan untuk memeriksa
apakah pasangan kranioklas sudah benar. Setelah hasil periksa dalam ulangan
baik, maka kedua sendok kranioklas dikunci serapat mungkin. Kemudian dilakukan
ekstraksi dengan menarik pemegang kranioklas.
10. Arah
ektraksi harus sesuai dengan arah sumbu panggul dan diikuti pula gerakan
putaran paksi dalam. Pada waktu ektraksi ini ajringan otak akan keluar. Setelah
suboksiput tampak di bawah simfisis, dilakukan elevasi kepala ke atas sehingga
berturut turut lahri ubun ubun besar,dahi,muka dan dagu. Bila kepala sudah
lahir seluruhnya, kunci dibuka dan kranioklas dilepas. Selanjutnya badan anak
dilahirkan secara biasa.
11. Pada
letak sungsang kraniotomi dibuat pada foramen magnum, yang dapt dikerjakan dari
arah belakang atau arah muka di bawah mulut. Setelah perforasi dikerjakan,
selanjutnya menyusul kepala tersebut dilahirkan dengan cara seperti pada
persalinan kepala. Bila pada waktu dilakukan ekstraksi kepala, ada bagian
bagian tulang tengkorak yang lepas, tulan tulang tersebut apat di ambil dengan
cunam Boer.
Teknik
Dekapitasi
a.
Dengan pengait
BRAUN
1.
Bila letak janin adalah letak lintang dengan tangan menumbung,maka
lengan yang menumbung diikat dulu dengan tali (dengan ikatan SIEGEMUNDIN agar
tidak masuk kembali kejalan lahir) dan ditarik kearah bokong oleh asisten.
2. Tangan
operator yangdekat dengan leher janin dimasukkan kedalam jalan lahir dan
langsung mencekap leher janin dengan ibu jari didepan leher dan jari-jari lain
dibelakang leher.
3.
Tangan lain
memasukkan pengait BRAUN kedalam jalan lahir dengan ujung menghadap kebawah.
Pengait dimasukkan jalan lahir dengan cara menyelusuri tangan dan ibu jari
operator yang berada didalam jalan lahir sampai menemui leher dan kemudian
dikaitkan pada leher janin.
4. Dengan pengait ini, leher janin ditarik
kebawah sekuat mungkin dan kemudian diputar kearah kepala janin (pada saat yang
sama, asisten memfiksasi kepala anak dari dinding abdomen) untuk mematahkan
tulang leher janin.
5.
Meskipun
tulang leher sudah patah, tetapi juga bagian-bagian lunak yaitu kulit dan otot belum putus. Apalagi
bila janin belum mengalami maserasi.
6. Untuk
memutuskan jaringan lunak ini dapat dipakai gunting siebold. Dengan memakai
gunting siebold kulit dan otot leher secara avne
dipotong sedikit demi sedikit hingga putus seluruhnya. Setelah kepala terpisah
dengan badan janin, selanjutnya janin dapat dilahirkan dengan cara Mauriceau.
7. Teknik
menggunting dengan gunting siebold adalah sebagai berikut. Satu tangan penolong
yang dekat dengan kepala janin dimasukan ke dalam jalan lahir. Di dalam vagina
dipasang spekulum. Gunting siebold dimasukan ke dalam jalan lahir dengan
menyelusuri tangan penolong yang ada di dalam sampai mencapai leher janin.
Dengan lindungan tangan yang didalam, secara avne leher janin digunting sedikit demi sedikit, mulai dari kulit,
otot-otot dan tulang leher, sampai leher terpotong. Setelah leehr janin
terpotong, badan janin dilahirkan dengan menarik satu tangan janin. Kepala
janin dilahirkan seperti diterangkan di atas.
Gambar
gunting Siebold
8. Memotong
leher dengan gergaji gigli
Gergaji
gerigi dilingkarkan pada leher janin, kemudian dengan dua spekulum dipasang
pada vagina, gergaji digerakan naik turun sampai leher putus.
Teknik
Kleidotomi
1. Satu tangan
penoling dimasukan ke dalam jalan lahir dan langsung memegang klavikula
terendah. Dengan spekulum terpasang dalam vagina, tangan lain memotong
klavikula dengan gunting Siebold secara avne
sehingga patah. Bersamaan dengan itu kepala janin ditekan dengan kuat oleh
seorang asisten.
2. Bila dengan
satu klavikula yang terpotong bahu belum dapat dilahirkan, dapat dipotong
klavikula yang lain.
Teknik
Eviserasi/ Eksenterasi
1. Satu tangan
penolong dimasukan ke dalam jalan lahir, kemudian mengambil tangan janin dan
dibwa keluar vagina. Lengan janin ditarik ke bawah, menjauhi perut janin
2. Dipasang
spekulum pada dinding vagina bawah, kemudian secara avner dinding toraks atau dinding abdomen digunting, sehingga
menembus rongga toraks atau abdomen.
3. Dengan satu
cunam, misalnya cunam abortus, melalui lubang tembus dikeluarkan organ-organ
visera.
4. Setelah
dikeluarkan organ-organ visera, rongga toraks atau rongga abdomen akan
mengecil. Pada letak lintang, janin dilahirkan dengan versi ekstraksi.
Teknik
Spondilotomi
1. Spondilotomi
dikerjakan pada lintang, bila kepala sangat tinggi sehingga sukar dilakukan
dekapitasi. Slaah satu tangna penolong masuk ke dalam jalan lahir, kemudian
pada vagina dipasang spekulum.
2. Dengan
gunting siebold dan dengan lindungan tangan yang di dalam, ruas-ruas tulang
belakang langsung dipotong, sehingga ruas-ruas tulang belakang terputus.
Pemotongan bagian perut janin dilakukan dengan memakai gunting siebold sehingga
seluruh badan janin terpisah. Bagian bawah janin dilahirkan lebih dulu, dengan menarik
kedua kaki, kemudian baru bagian tubuh atas janin.
Teknik
Pungsi
1. Pungsi
trans-vaginal dikerjakan pada pembukaan lebih dari 4 cm. Didalam vagina
dipasang spekulum, kulit kepala dijepit dengan cunam Willet atau cunam Muzeaux.
Suatu pungsi spinal dengan ukuran 16 atau 18 yang disambung pada alat suntik
ditusukan pada kepala janin, sedapat mungkin pada sutura atau ubun-ubun.
2. Setelah
kepala janin tertususk, dilakukan aspirasi sedikit untuk membuktikan benar
tidaknya cairan otak yang keluar. Kemudian alat suntik dilepas dari jarum
pungsi sehingga cairan otak mengalir keluar. Dengan keluarnya cairan otak,
kepala janin akan mengecil dan dapat dilahirkan pervagina.
3. Untuk
mempercepat lahirnya kepala dapat juga kepala janin dilahirkan dengan traksi
Muzeaux pada kulit kepalanya.
2.4.Gangguan Psikologis dalam Kebidanan
2.4.A. Depresi
Kehamilan
Depresi atau biasa disebut sebagai
gangguan afektif merupakan salah satu bentuk psikosis. Ada beberapa pendapat
mengenai definisi dari depresi, diantaranya yaitu :
a. Menurut National Institut of Mental Health, gangguan depresi
dimengerti sebagai suatu penyakit “ tubuh yang menyeluruh “ ( whole-body ),
yang meliputi tubuh,suasana perasaan(mood),dan pikiran.
b. Southwestern Psychological Services memiliki pendapat yang
mirip dengan National Institut of Mental Health bahwa depresi adalah dipahami
sebagai suatu penyakit, bukan sebagai suatu kelemahan karakter, suatu refleksi
dari kemalasan atau suatu ketidakmauan “ untuk menoba lebih keras“.
c.
Staab dan Feldman menyatakan bahwa depresi
adalah suatu penyakit yang menyebabkan suatu gangguan dalam perasaan dan emosi
yang dimiliki oleh individu yang ditunjuk sebagai suasana perasaan.
Secara umum, depresi sebagai suatu gangguan alam perasaan perasaan sedih yang sangat mendalam, yang bisa terjadi setelah kehilangan seseorang atau peristiwa menyedihkan lainnya, tetapi tidak sebanding dengan peristiwa tersebut dan terus menerus dirasakan melebihi waktu yang normal.
Secara umum, depresi sebagai suatu gangguan alam perasaan perasaan sedih yang sangat mendalam, yang bisa terjadi setelah kehilangan seseorang atau peristiwa menyedihkan lainnya, tetapi tidak sebanding dengan peristiwa tersebut dan terus menerus dirasakan melebihi waktu yang normal.
1. Gejala-gejala Depresi
Adapun bagi ibu hamil, tanda-tanda atau gejala yang
menunjukkan mengalami depresi tidak jauh atau sama halnya dengan gejala-gejala
di atas dan waktunya pun kurang lebih 2 minggu, yakni diantaranya sebagai
berikut :
a. Ditandai dengan perasaan muram, murung, kesedihan tidak bisa
atau sulit berkonsentrasi, mengingat, atau mengambil keputusan pekerjaan dan
aktivitas sehari-hari.
b. Teganggu calon ibu dengan orang-orang sekitarnya, terganggu
kondisi ibu mengancam keselamatan janin dan putus asa, terkadang beberapa ada
yang merasa cemas.
c. Kadang-kadang tegang, kaku, dan menolak intervensi terpeutik.
Selain itu, gejala di atas biasanya
disertai perubahan nafsu makan dan pola tidur, harga diri yang rendah,
hilangnya energi dan penurunan dorongan seksual.
2. Bentuk-bentuk Depresi
Terdapat berbagai bentuk depresi, tergantung dari vartiasi
dalam jumlal simptom, tingkat keparahan dan persistensinya. Namun, secara umum
dapat digolongkan menjafi dua yakni :
a. Depresi Unipilar
Merupakan gangguan depresi yang dicirikan oleh suasana
perasaan depresif saja. Depresi Unipolar terdiri atas :
1.
Depresi Mayor
Apabila seseorang atau ibu hamil mengalami tanda-tanda atau
gejala seperti di atas, maka segera harus ditangani karena bisa saja berubah
menjadi lebih serius yang dapat berdampak pada ibu maupun janinnya, yakni
menjadi depresi berat atau depresi mayor. Sindrom depresi mayor ditandai dengan
suatu kombinasi simptom yang berpengaruh dengan kemampuan untuk bekerja, tidur,
makan dan menikmati salah satu kegiatan yang menyenangkan serta sulit untuk
melakukan komunikasi karena mereka cenderung menarik diri, tidak mampu
berkonsentrasi, kurang perhatian, merasa tidak dihargai dan sulit untuk
mengingat sesuatu dan yang terutama adalah tidak jarang dari penderita yang
ingin bunuh diri. Episode ketidakmampuan depresi ini dapat terjadi hampir
setiap hari dan pasti ada yang mendominasi di sepanjang hari. Selain itu, bila
tidak teratasai dengan baik dapat muncul sekali, dua kali atau beberapa kali
selama hidup.
2.
Distimia
Merupakan bentuk depresi yang kurang parah karena simptom
atau gejala-gejala yang ditunjukkan tidak membuat orang yang mengalaminya
menjadi tidak mampu tetapi yang menghindarkan orang yang bersangkutan untuk
berfungsi pada tingkat yang penuh atau menghalanginya dari perasaan baik.
b. Depresi Bipolar
Merupakan
gangguan depresi yang dicirikan oleh pergantian antara suasana perasaan
depresif dan mania, artinya selain depresi, di sisi lain terkadang merasa
gembira.
3. Penyebab
Terjadinya Depresi Pada Kehamilan
Para ahli belum bisa memastikan mengapa depresi terjadi pada
wanita hamil, namun diduga perubahan tingkat hormon yang drastis selama
kehamilan dan setelah melahirkan menjadi biang keladinya. Selain peningkatan
kadar hormon dalam tubuh, menurut penelitian bahwa depresi terjadi karena klien
atau penderita depresi memiliki ketidakseimbangan dalam pelepasan
neurotransmitter serotonin mayor, norepinefrin, dopamin, asetilkolin, dan asam
gama aminobutrik.Selain itu,ada pula hasil penelitian yang menyatakan bahwa
terjadinya depresi karena adanya masalah dengan beberapa enzim yang mengatur
dan memproduksi bahan-bahan kimia tersebut. Dengan demikian, berdampak pula
pada metabolisme glukosa dimana penderita depresi tidak memetabolisme glukosa
dengan baik dalam area otak tersebut. Jka depresi teratasi, aktivitas
metabolisme kembali normal. Selain dari faktor organobiologis di atas, pencetus
terjadinya depresi adalah karena factor psikologis dan sosio-lingkungan,
misalnya karena akan berubah peran menjadi seorang ibu, karena kehilangan pasangan
hidup, kehilangan pekerjaan, pasca bencana dan dampak situasi kehidupan
sehari-harinya.
Faktor lain yang menyumbang peran dalam terjadinya depresi
pada ibu hamil antara lain:
1. Riwayat keluarga yang memiliki penyakit kejiwaan.
2. Kurangnya dukungan dari
suami dan keluarga.
3. Perasaan khawatir yang berlebihan pada kesehatan janin.
4. Ada masalah pada
kehamilan atau kelahiran anak sebelumnya.
5. Sedang menghadapi masalah keuangan.
6. Usia ibu hamil yang terlalu muda.
7. Adanya komplikasi selama kehamilan.
8. Keadaan rumah tangga yang tidak harmoni.
9. Perasaan calon ibu yang tidak menghendaki kehamilan.
4. Dampak Atau Pengaruh Depresi Terhadap Kehamilan
Permasalahan
yang berkaitan dengan kondisi kejiwaan termasuk depresi, selain berdampak pada
diri sendiri bisa berimplikasi atau berpengaruh tidak baik terhadap kondisi
kesehatan janin yang ada di dalam kandungan. Kita semua pasti mengetahui bahwa
perubahan fisik dan hormonal yang terjadi selama masa kehamilan sangat
berpengaruh terhadap kondisi wanita yang sedang hamil. Depresi yang tidak
ditangani akan memiliki dampak yang buruk bagi ibu dan bayi yang dikandungnya.
Ada 2 hal penting yang mungkin berdampak pada bayi yang
dikandungnya, yaitu :
1.
Pertama adalah
timbulnya gangguan pada janin yang masih didalam kandungan.
2.
Kedua muncul nya
gangguan kesehatan pada mental sianak nantinya.
Depresi yang dialami, jika tidak disadari dan ditangani
dengan sebaik – baiknya akan mengalihkan perilaku ibu kepada hal – hal yang
negatif seperti minum-minuman keras, merokok dan tidak jarang sampai mencoba
untuk bunuh diri. Hal inilah yang akan memicu terjadinya kelahiran prematur,
bayi lahir dengan berat badan yang rendah, abortus dan gangguan perkembangan
janin. Kelahiran bayi prematur juga akan menjauhkan dekapan seorang ibu terhadap
bayi yang dilahirkan , karena si bayi akan ditempatkan di inkubator tersendiri.
Apalagi jika sudah mengalami depresi mayor yang identik dengan keinginan bunuh
diri, bisa saja membuat langsung janinnya meninggal.Ibu yang mengalami depresi
ini tidak akan mempunyai keinginan untuk memikirkan perkembangan kandungannya
dan bahkan kesehatannya sendiri
5. Cara Penanganan
Strategi
kesehatan yang bisa diterapkan pada saat masa kehamilan untuk mengantisipasi
depresi yaitu menjadikan masa hamil sebagai pengalaman yang menyenangkan,
selalu konsultasi dengan para ahli kandungan, makan makanan yang sehat, cukup
minum air, mengupayakan selalu dapat tidur dengan baik dan melakukan senam bagi
ibu hamil. Disamping itu juga melakukan terapi kejiwaan supaya terhindar dari
depresi, lebih meningkatkan keimanan dan tentunya mendapat dukungan dari suami
dan keluarga.
Sedangkan bagi yang telah terdiagnosis, perencanaan kehamilan
sangat penting pada wanita hamil yang didiagnosis depresi, sebaiknya
kehamilannya perlu direncanakan atau dikonsultasikan dengan ahli kebidanan dan
kandungan, dan psikiater tentang masalah resiko serta keuntungan setiap
pemakaian obat-obat psikofarmakologi. Rawat inap sebaiknya dipikirkan sebagai
pilihan pengobatan psikofarmakologis pada trimester I untuk kasus kehamilan
yang tidak direncanakan, dimana pengobatan harus dihentikan segera dan apabila
terdapat riwayat gangguan afektif ( depresi ) rekuren.
Ada 2 fase penatalaksanaan farmakologis yang digambarkan
dalam Panel Pedoman Depresi ( Depression Guideline Panel ) :
1. Fase Akut
Gejalanya ditangani, dosis obat
disesuaikan untuk mencegah efek yang merugikan dan klien diberi penyuluhan.
2. Fase Lanjut
Klien dimonitor pada dosis efektif
untuk mencegah terjadinya kambuh. Pada fase pemeliharaan, seorang klien yang
beresiko kambuh sering kali tetap diberi obat.
Untuk klien yang dianggap tidak beresiko tinggi mengalami kambuh, pengobatan dihentikan. Penggunaan antidepresan trisiklik sebaiknya hanya pada pasien hamil yang mengalami depresi berat yang mengeluhkan gejala vegetatif dari depresi, seperti menangis, insomnia, gangguan nafsu makan dan ada ide-ide bunuh diri.
Untuk klien yang dianggap tidak beresiko tinggi mengalami kambuh, pengobatan dihentikan. Penggunaan antidepresan trisiklik sebaiknya hanya pada pasien hamil yang mengalami depresi berat yang mengeluhkan gejala vegetatif dari depresi, seperti menangis, insomnia, gangguan nafsu makan dan ada ide-ide bunuh diri.
Selective serotonin reuptake
inhibitors ( SSRIs ) terbukti sudah sangat berguna untuk menangani depresi
sehingga menjadi pilihan untuk ibu hamil, mencakup fluoksetin dan sertralint.
Obat ini menjadi pilihan karena obat tersebut lebih sedikit memiliki efek
antikolinergik yang merugikan, toksisitas jantung, dan bereaksi lebih cepat
daripada antidepresan trisiklik dan inhibitor oksidase monoamin ( MOA ) serta
tidak menyebabkan hipotensi ortostatik, konstipasi dan sedasi.Disamping itu,
psikoterapi atau metode support group secara rutin harus dilakukan bila ada
konflik intrapsikis yang berpengaruh pada kehamilan. Terapi perilaku kognitif
sangat menolong pasien depresi dan disertai antidepresan. Terapi
elektrokompulsif (ECT) digunakan pada pasien depresi psikotik untuk mendapatkan
respon yang lebih cepat, bila kehidupan ibu dan anak terancam, misalnya pada
depresi hebat dan klien samping ingin bunuh diri atau jika tidak berespon
terhadap pengobatan antidepresan.Dalam menghadapi klien penderita depresi,
harus dilakukan dengan sikap serius dan mengerti keadaan penderita. Kita harus
memberi pengertian kepada mereka dan mensupport atau memberikan motivasi yang
dapat menenagkan jiwanya. Hendaknya jangan menghibur, memberi harapan palsu,
bersikap optimis dan bergurau karena akan memperbesar rasa tidak mampu dan
rendah diri.
2.3.B.Psikosa
Psikosa adalah suatu gangguan jiwa dengan kehilangan rasa kenyataan
( sense of reality ) atau dengan kata lain, psikosa adalah tingkah laku secara
keseluruhan dalam kepribadiannya berpengaruh tidak ada kontak dengan realitas
sehingga tidak mampu lagi menyesuikan diri dalam norma-norma yang wajar dan
berlaku umum.
Tanda-tanda atau gejala-gejala psikosa
yaitu : pada umum nya gejalanya tidak mampu melakukan partisipasi
sosial-halusinasi. Sejumlah kelainan perilaku, seperti aktivitas yang
meningkat, gelisah, retardasi psikomotor dan perilaku katatonik. Sering ada gangguan lingkungan. sosialnya membahayakan
orang lain dan diri sendiri. adanya gangguan kemampuan berpikir, bereaksi
secara emosional mengingat, berkomunikasi, menafsirkan kenyataan, dan bertindak
sesuai kenyataan.
Psikosa umumnya terbagi dalam dua golongan besar yaitu:
1. Psikosa fungsional
Merupakan gangguan yang disebakan
karena terganggunya fungsi sistem transmisi sinyal pengahantar saraf (
neurotransmitter ). Factor penyebabnya terletak pada aspek kejiwaan, disebabkan
karena sesuatu yang berhubungan dengan bakat keturunan, bisa juga disebabkan
oleh perkembangan atau penglaman yang terjadi selama sejarah kehidupan
seseorang.
2. Psikosa organik
Merupakan gangguan jiwa yang
disebabkan karena ada kelainan atau gangguan pada aspek tubuh, misalnya ada
tumor atau infeksi pada otak, keracunan ( intoksikasi ) NAZA.
2.3.B.1
Jenis-jenis psikosa
Adapun jenis-jenis psikosa yaitu terdiri atas :
a. Skizofrenia
merupakan jenis psikosa yang paling sering dijumpai.
Skizofrenia pada kehamilan. dapat muncul bila terjadi interaksi antara abnormal
gen dengan :
a)
Virus atau infeksi lain
selama kehamilan yang dapat menganggu perkembangan otak janin.
b)
Menurunnya autoimun
yang mungkin disebabkan infeksi selama
kehamilan.
c)
Komplikasi kandungan.
d)
Kekurangan gizi yang
cukup berat, terutama pada trimester kehamilan.
b.
Paranoid
Paranoid ditandai
adanya kecurigaan yang tidak beralasan terus menerus yang pada puncaknya bisa
menjadi tingkah laku yang agresif. Emosi dan pikiran penderita masih berjalan
baik dan saling berhubungan. Jalan pikiran cukup sistematis, mengikuti suatu
logika yang baik dan teratur, tetapi berakhir dengan interpretasi yang
menyeleweng dari kenyataan.
2.3.B.2 Gejala Klinis
Psikosa ditandai oleh perilaku yang regresif, hidup perasaan tidak
sesuai, berkurangnya pengawasan terhadap implus-implus serta waham dan
halusinasi. Gejala psikosa dapat berupa:
1. Halusinasi
2. Sejumlah kelainan perilaku, seperti aktivitas yang meningkat
3. Gelisah
4. Retardasi psikomotor
5. Perilaku katatonik
2.2.3 Dampak Psikosa Dalam Kehamilan
Gangguan jiwa
yang dapat terjadi pada kehamilan antara lain :
1.
Gangguan afektif pada kehamilan.
2.
Gangguan bipolar
3.
Skizofrenia
4.
Gangguan cemas menyeluruh
5.
Gangguan panik
6.
Gangguan obsesif konvulsif
Menninger telah
menyebutkan lima sindroma klasik yang menyertai sebagian besar pola psikotik:
a. Perasan sedih, bersalah dan tidak mampu yang mendalam
b. Keadaan terangsang yang tidak menentu dan tidak terorganisasi, disertai
pembicaraan dan motorilk yang berlebihan
c. Regresi ke otisme manerisme pembicaran dan perilaku, isi pikiran yanng
berlawanan, acuh tak acuh terhadap harapan sosial.
d. Preokupasi yang berwaham, disertai kecurigaan, kecendrungan membela diri
atau rasa kebesaran
e. Keadaan bingung dan delirium dengan disorientasi dan halusinasi.
Proses kejiwaan dalam kehamilan
1. Triwulan I
a.
Cemas ,takut, panik, gusar
b.
Benci pada suami
c.
Menolak kehamilan
d.
Mengidam
2. Triwulan II
a.
Kehamilan nyata
b.
Adaptasi dengan kenyataan
c.
Perut bertambah besar
d.
Terasa gerakan janin
3. Triwulan III
a. Timbul gejolak baru menghadapi persalinan
b.
Perasaan bertanggung jawab
c.
Golongan ibu yang mungkin merasa
takut
d.
Ibu yang mempunyai
riwayat/pengalaman buruk pada persalinan yang lalu
e.
Multipara agak berumur
f.
Primigravida yang mendengar tentang
pengalaman ngeri dan menakutkan dari teman-teman lain
2.3.B.4
Pencegahan dan Penanganan Psikosa
Adapun cara pencegahan yang dapat dilakukan pada penderita
psikosa adalah dengan memperhatikan hal-hal berikut :
a.
Informasi
b.
ANC rutin
c.
Nutrisi
d.
Penampilan
e.
Aktivitas
f.
Relaksasi
g.
Senam hamil
h. Latihan pernafasan
Sedangkan cara
penanganan adalah dengan melakukan konsultasi pada dokter, bidan, psikologa
atau psikiater. Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh petugas keshatan dalam
menangani atau menghadapi penderita psikosa adalah : Sejak pemeriksaan
kehamilan pertama kali tenaga medis harus dengan kesabaran meyakinkan calon ibu
bahwa peristiwa kehamilan dan persalinan merupakan hal yang normal dan wajar. Ajarkan dan
berikan latihan-latihan untuk dapat menguasai otot-otot, istirahat dan
pernafasan.
Hindari kata-kata dan komentar yang dapat mematahkan semangat si wanita.
2.3.C.
Psikoneurosa
Psikoneurosa atau dengan singkat dapat disebutkan sebagai
neurosa saja adalah gangguan berupa ketegangan pribadi yang terus menerus
akibat adanya konflik dalam diri orang bersangkutan dan akhirnya orang tersebut
tidak dapat mengatasi konfliknya.Oleh karena ketegangannya tidak mereda
akhirnya neurosis (suatu kelainan mental dengan kepribadian terganggu yang
ringan seperti cemas yang kronis, hambatan emosi, sukar tidur, kurang perhatian
terhadap lingkungan dan kurang memiliki energi). Oleh karena itu, psikoneurosis
bukanlah suatu penyakit. Penderita psikoneurosis biasanya adalah orang yang
taraf kecerdasannya cukup tinggi. Mereka cukup kritis untuk menilai situasi
atau motif-motif yang saling bertentangan sehingga mereka sangat merasakan
adanya konflik. Sebaliknya, orang yang tidak cukup tinggi taraf kecerdasannya,
kurang kritis untuk mengerti konflik-konflik yang ada. Berbeda dengan gangguan
psikotik, pada psikoneurosa tidak terjadi disorganisasi kepribadiaan yang
serius dalam kaitannya dengan realitas eksternal. Biasanya penderita memiliki
sejarah hidup penuh kesulitan, dibarengi tekanan-tekanan batin dan peristiwa
yang luar biasa. Atau mengalami kerugian psikis yang besar sekali, karena
terampas dari lingkungan sosial yang baik kasih sayang sejak usia yang sangat
muda. Proses pengkondisian yang buruk terhadap mental pasien itu menumbuhkan
simpton-simpton mental yang patologis atau menimbulakan macam-macam bentuk
gangguan mental. Dengan demikian, gejala atau karakteristik dari penderita
psikoneurosa diantaranya : penderita tidak mampu mengadakan adaptasi terhadap
lingkungannya, tingkah lakunya jadi abnormal dan aneh-aneh serta penderita
biasanya tidak mengerti dirinya sendiri dan membenci pula diri sendiri. Sebab-sebab
yang utama penyakit psikoneurosa atau lebih popular disingkat dengan neurosa,
antara lain ialah: factor-faktor psikologis dan cultural, yang menyebabkan
timbulnya banyak stress dan ketegangan-ketegangan kuat yang khronis pada
seseorang. Sehingga pribadi mengalam frustasi dan konflik-konflik emosional dan
pada akhirnya mengalami satu mental breakdown.
Sebab-sebab lainnya adalah diantaranya :
a. Ketakutan terus menerus dan sering tidak rasional. Misalnya :
bagi ibu hamil, takut memikirkan terus sakitnya melahirkan.
b. Ketidakseimbangan
pribadi.
c. Konflik-konflik internal yang serius, khususya yang sudah
diimulai sejak masa kanak-kanak.
d.
Kurang adanya
usaha dan kemauan.
e. Lemahnya pertahanan diri ( memakai defence mechanism yang negative
).
2.3.C.1.Jenis-jenis
Neurosis
A. Neurosis
Cemas
1.
Gejala neurosis
a.
Gejala somatis dapat berupa sesak nafas, dada tertekan, kepala ringan
seperti mengambang, mudah lelah, keringat dingin
b.
Gejala psikologis berupa kecemasan, keteganggan, panik, depresi
2. Faktor penyebab
Faktor
pencetus neurosis cemas seing jelas dan secara psikodinamik berhubungan dengan
faktor-faktor yang menahun seperti kemarahan yang dipendam.
3. Terapi Neurosis Cemas
Ada
beberapa jenis terapi yang dapat dipilih untuk menyembuhkan neurosis cemas,
yaitu :
a)
Psikoterapi indifidual
b)
Psikoterapi kelmpok
c)
Psikoterapi analitik
d)
Sosioterapi
e)
Farmakoterapi
B.
Histeria
1. Gejala-gejala Histeria
Pada
neurosis jenis ini fungsi mental dan jasmaniah dapat hilang tanpa dikehendaki
oleh penderita. Gejala ini sering timbul dan hilang secara tiba-tiba, terutama
bila penderita menghadapi situasi yang menimbulkan reaksi emosional yang hebat.
2. Jenis-jenis Histeria
a)
Histeria Minor atau reaksi konfersi
Pada
histeria minor kecemasan diubah atau dikonversikan menjadi gangguan fungsional
susunan saraf somatomotorik atau somatosensorik, dengan gejala : lumpuh,
kejang-kejang, dll
b)
Histeria mayor atau reaksi disosiasi
Histeria
jenis ini dapat terjadi bila kecemasan yang dialami penderita demikian hebat,
sehingga dapat memisahkan beberapa fungsi kepribadian satu dengan yang lainnya
sehingga bagian yang terpisah tersebut berfungsi secara otonom, sehingga timbul
gejala: amnesia, somnabulisme, fugue dan kepribadian ganda.
3. Sebab-sebab Hysteria:
a)
Ada presdiposisi pembawaan berupa system saraf yang lemah.
b)
Tekanan mental yang disebabkan oleh, kesusahan, kekecewaan, shock, dan
pengalaman traumatis.
c)
Kondisi fisik yang buruk seperti sakit-sakitan, gangguan pikiran dan
badaniah.
4. Terapi terhadap penderita hysteria
Ada beberapa tehnik terapi yang dapat dilakukan
antara lain:
a)
Teknik hipnosis (pernah diterapkan
oleh dr. Joseph Breuer)
b)
Teknik asosiasi bebas
(dikembangkan oleh Sigmund Freud)
c)
Psikoterapi suportif
d) Farmakoterapi
C.
Neurosis Fobik
1. Gejal neurosis fobik
Neurosis fobik merupakan
gangguan jiwa dengan gejala utamanya fobia, yaitu rasa takut yang hebat yang
bersifat irasional, terhadap suatu benda atau keadaan.
2. Faktor penyebab neurosa fobik
Neurosa fobik terjadi karena penderita
pernah mengalami ketakutandan shock hebat berkenaan dengan situasi atau benda
benda tertentu, yang disertai perasaan malu dan bersalah. Pengalaman traumastis
ini kemudian dipresi. Namun pengalaman tersebut tidak bisa hilang dan akan
muncul bbila ada rangsagan serupa.
3. Terapi untuk penderita neurosa fobik
Menurut maramis, neurosa fobik
sulit untuk dihilangkan samasekali bila gangguan tersebut telah lama diderita
atau berdasarkan fobi pada masa kanak-kanak. Tehnik terapi yang dapat dilakukan
antara lain :
1. Psikoterapi suportif, upaya untuk mengajar
penderita memahami apa yang sebenarnya dia alam beserta psikodinamikanya.
2. Terapi perilaku dengan deconditioning, yaitu
setiap kali penderita merasa takut di diberi rangsangan yang tidak
menyenangkan.
3. Terapi kelompo
4. Manipulasi lingkungan
D.
Neurosis Obsesif-Kompulsif
1.
Gejala neurosis obsesif-kompulsif
Istilah
obsesi menujuk pada suatu ide yang mendesak ke dalam pikiran atau menguasai
kesadaran dan istilah kompusif menunjuk pada dorongan atau implus yang tidak
dapat ditahan untuk tidak dilakukan, meskipun sebenarnya perbuata tersebut
tidak perlu dilakukan.
2.
Faktor penyebab
Neurosis jenis ini dapat
terjadi karena faktor-faktor berikut (Yulia D, 2000).
a.
Konflik antara keinginan-keinginan yang ditekan atau dialihkan
b.
Trauma mental emosional, yaitu depresi pengalaman masa lalu (masa kecil)
3. Terapi
a.
Psikoterapi suportif
b.
Penjelasan dan pendidikan
c.
Terapi perilaku
E.
Neurosis Depresif
1. Gejala neurosis depresif
Neurosis depesif merupakan
neursis dengan gangguan utama pada perasaan. Gejala-gejala utama gangguan jiwa
ini adalah gejala jasmaniah yang senantiasa lelah, gejala psikologis yaitu
sedih, putus asa, cepat lupa, insomnia, ingin mengahiri hidupnya.
2.
Terapi
Untuk
menyembuhkan depresi, Burns(1988) telah mengembangkan teknik terapi dengan
prinsip yang dibuat terapi kognitif, yang dilakukan dengan prinsip sebagai
berikut :
a. Bahwa semua rasa murung disebabkan oleh kesadaran
atau pemikiran yang bersangkutan.
b. Jika depresi sedang terjadi maka berarti
pemikiran telah dikuasai oleh kekeliruan yang mendalam.
c. Bahwa pemikiran negative menyebabkan kekacauan
emosional.
F.
Neurasthenia
1. Gejala neurasthenia
Gejala utama :
tidak bersemangat, cepat lelah, kemampuan berpikir menurun
Gejala tambahan : insomnia, kepala pusing, sering
merasa dihinggapi berbagai macam penyakit.
2. Faktor
penyebab
Neurasthenia
dapat terjadi karena beberapa faktor (Zakiah Darajat, 1983), yaitu sebagai
berikut :
a.
Terlalu lama menekan perasaan
b.
Kecemasan
c.
Terhalanginya keinginan-keinginan
d.
Sering gagal dalam menghadapi persaingan
3. Terapi
a. Psikoterapi supportif
b. Terapi olah raga
c. Farmak terapi
G.
Psikotenis
1.
Gejala
Gejal penyakit
ini ialah kelesuan mental, phobia. Selain phobia timbul obsesi yang disertai
compulsion (kecenderungan untuk melakukan sesuatu tanpa dapat dicegah).
2.
Sebab-sebab psikotenis
a.
Represi terhadap pengalama-pengalaman traumatis yang sangat menakutkan
pada masa silam.
b.
Ada konflik antar untuk berani melawan rasa takut yang merenggut, yang
dicobanya menekan kuat-kuat dalam alam tidak sadar.
H.
Neurastania
Penyakit ini
ditandai oleh kelelahan yang terus menerus, wajah murung, nafsu makan menurun,
sulit tidur. Risau disebabkan oleh kesibukan.Banyak menderita ketegangan emosional karena
konflik-konflik internal, kesusahan. Faktor-faktor herediter diperkirakan juga menjadi
penyebabnya.
I. Hipokondria
Adalah kondisi kecemasan yang
kronis, dimana pasien selalu merasakan ketakutan yang patologis terhadap
kesehatan sendiri. Individu yang bersangkutan merasa yakin betul bahwa dirinya
mengidap suatu penyakit yang kronis. Kesehatan emosional berakitan erat dengan
kesehatan dan kondisi jiwa seseorang, cara untuk mengatasi kelabilan dari
kesehatan emosi ini dapat dilakukan dengan cara memakan makanan yang sehat yang
disertai asupan gizi yang cukup, malakukan olah raga secara teratur, dan
istirahat yang proposioanal.
CONTOH KASUS
ASUHAN KEBIDANAN
1.
Psikosa
Ny “S” umur 20 tahun G1P0Ab0Ah0 UK
20 minggu dengan psikosa kehamilan di RSUD Wonosari.
DATA SUBJEKTIF
Ny. Sumarni (20 tahun)
mengatakan hamil ke-1, umur kehamilan 5 bln,, HPMT 8 November 2009.
Keluhan utama ;
·
Ibu mengatakan merasa sangat bersalah, sedih dengan kehamilannya
saat ini
·
Ibu mengatakan bahwa kehamilannya ini beban untuknya dan kadang
ibu berusaha menyakiti dirinya sendiri
·
Ibu mengatakan sering mengkhayal bayinya sudah mati.
Pola aktivitas
Istirahat/tidur : 5 jam tidur malam, jarang tidur siang. Pola
hubungan seksualitas : ibu enggan untuk berhubungan seks.
Riwayat Kesehatan
·
Penyakit sistemik yang pernah/ sedang diderita, Tidak ada
·
Penyakit yang pernah/sedang diderita keluarga. Nenek ibu pernah
mengalami gangguan jiwa.
Kebiasaan – kebiasaan
·
Perubahan pola makan ( termasuk nyidam, nafsu makan turun,dan
lain – lain)
Nafsu makan ibu turun kadang hanya satu kali
sehari, nyidam
Keadaan
Psikososiokultural
·
Kehamilan ini tidak diinginkan
·
Penerimaan ibu terhadap kehamilan saat ini. Ibu merasa
kehamilannya ini hanya beban untuk semuanya sehingga ibu merasa tidak ingin
melanjutkan kehamilannya.
·
Penerimaan keluarga terhadap kehamilan ibu. Suami dan keluarga
tidak menginginkan kehamilan ibu karena keadaan ekonomi keluarga dan suami yang
kurang mendukung.
DATA OBJEKTIF
Keadaan umum agak
lemah, ekspresi wajah tegang, cemas dan gelisah, ibu tampak berusaha menyakiti
dii sendiri dengan memukul – mukul perutnya.
BB : 47 kg
LILA : 23 cm
Tanda Vital:
TD
:
120/90 mmHg
S
:
36ºC
N : 100
x/menit
RR
: 22 x/ menit
Palpasi Leopold :
Leopold ! : teraba
ballothement (+)
ASSESMENT
1.
Diagnosa Kebidanan :
Seorang wanita usia 20
tahunG0P1Ab0Ah1 UK 20 minggu
dengan psikosa kehamilan
1.
Masalah
Ibu merasa cemas,
sulit tidur, panic, ingin menyakiti diri sendiri dan kadang berhalusinasi.
1.
Kebutuhan segera
-
Meyakinkan ibu bahwa bidan akan berusaha semaksimal mungkin untuk membantu ibu
mengatasi masalahnya dan ibu tidak perlu takut.
-
Memberikan penyuluhan tentang maksud, tujuan dilakukan terapi serta prosesnya.
1.
Diagnosa Potensial
Terjadi paranoid dan
selanjutnya dapat terjadi psikoneurosa
1.
Masalah Potensial
Tidak ada
1.
Kebutuhan tindakan segera
Berkolaborasi dengan
dokter dan psikiater untuk pemberian terapi.
PLANNING
1.
Memberitahu hasil pemeriksaan ibu
TD
: 110/70 mmHg
S
: 36ºC
N
: 84 x/menit
RR
: 22 x/ menit
2.
Mendengarkan pemyataan pasien dengan sikap sabar empati dan
lebih banyak memakai bahasa non
verbal. Misalnya: memberikan sentuhan, anggukan.
E : Ibu terlihat agak tenang
3.
Memberitahu ibu resiko bunuh diri/melukai diri sendiri baik bagi
ibu maupun janinnya.
E : Ibu histeris mendengarnya dan masih
berusaha melukai diri sendiri
4.
Memberikan konseling kepada keluarga tentang keadaan ibu,
penyebabnya, dan berusaha memotivasi keluarga agar menerima kehamilan ibu.
E: awalnya keluarga menolak namun setelah mendengar konseling,
mau merubah sikap terhadap kehamilan ibu.
5.
Menganjurkan keluarga untuk menjauhkan dan menyimpan alat-alat
yang dapat digunakan oleh pasien untuk mencederai dirinya/orang lain, ditempat
yang aman dan terkunci.
E : Keluarga mengerti dan akan melakukan
saran bidan.
6.
Menganjurkan ibu untuk istirahat yang cukup dan sering
berkomunikasi dengan orang lain.
7.
Memberikan penyuluhan tentang maksud, tujuan dilakukan terapi
serta prosesnya kepada klien dan keluarga untuk diminta persetujuan dan
dukungannya.
E : Keluarga menyetujui tindakan terapi
8.
Melakukan kolaborasi dengan dokter dan psikiater untuk
pelaksanaan terapi seperti pemberian obat anti depresan dan anti psikotik.
9.
Memberikan dorongan moril pada klien, mendengarkan cerita
keluhan – keluhan pasien dan menganjurkan untuk berdoa.
2. CONTOH KASUS ASUHAN KEBIDANAN IBU HAMIL DENGAN
NEUROSIS CEMAS
ASUHAN KEBIDANAN
PADA IBU HAMIL
Ny. “M” usia
26 tahun G2P1Ab0Ah1 UK 13 minggu dengan Neurosis Cemas
NO.
REGISTER
: 224455
MASUK RS
TANGGAL, JAM : 28 Maret 2010,
11.00 WIB
DI
RUANG
: RB Karya Rini
TANGGAL
PENGKAJIAN
: 28 Maret 2010, 11.00 WIB
A. DATA SUBJEKTIF
Ibu mengatakan
bahwa akhir-akhir ini sering merasa sesak nafas, dada tertekan, kepala ringan
seperti mengambang, lekas lelah, keringat dingin, cemas, tegang, anorexia dan
cepat panik.
B. DATA OBJEKTIF
1)
Keadaan umum lemah dan pucat, kesadaran compos mentis, ekspresi murung
2)
Tanda vital
a.
Tekanan
darah : 120/80 mmHg
b.
Nadi
: 80 kali per menit
c.
Pernafasan
: 24 kali per menit
d.
Suhu
: 38,3 ºC
3) Edema
wajah : tidak ada
4)
Abdomen
a.
Bentuk
: masih tampak datar
b.
Bekas
luka :
tidak ada
c.
Strie
gravidarum : ada
Palpasi
Leopold
Leopold
I
: TFU 3 jari di atas simpisis
Leopold
II : tidak dilakukan
Leopold III
: tidak dilukukan
Leoplod
IV : tidak dilakukan
5)
Ekstremitas
Edema
: tidak ada
6)
Pemeriksaan Penunjang
a.
Protein urine ( – )
b.
Pemeriksaan haemoglobin tanggal 28 Maret 2010 9,6 gr%
C. ASSESMENT
Diagnosis
kebidanan : Ny “ M “ usia 26 tahun G2P1Ab0Ah1 UK 13 minggu dengan
neurosis cemas
Masalah
: Ibu mengatakan bahwa
akhir-akhir ini sering merasa sesak nafas, dada tertekan, kepala ringan seperti
mengambang, lekas lelah, keringat dingin, cemas, tegang, anorexia dan cepat
panik.
Kebutuhan
: KIE tentang neurosis cemas, pemberian tablet besi
dan kolaborasi dengan dr. Suharto,Sp.KJ
D. PLANNING
Tanggal 28
Maret 2010, jam 11.15 WIB
1) Menjelaskan kepada ibu bahwa kondisi ibu
kurang baik. Sekaligus memberi KIE tentang penyakit yang diderita ibu yaitu
neurosis cemas, sejenis gangguan jiwa yang menyebabkan kecemasan, kepanikan
maupun masalah-masalah emosional yang dihadapi ibu. Ibu paham dengan penjelasan
bidan.
2)
Memberikan ibu tablet besi sebanyak 10 tablet untuk diminum setiap hari 1 kali,
ibu dianjurkan untuk meminumnya sebelum tidur pada malam hari dengan sari buah
atau air putih jika tidak ada sari buah karena sari buah / jus yang mengandung
vitamin C dapat mempercepat penyerapan tubuh terhadap tablet besi dan
mengurangi rasa mual. Ibu bersedia untuk meminumnya.
3)
Memotivasi ibu agar tidak memikirkan hal-hal yang dapat cepat memicu perasaan
cemas, tegang, sesak nafas, tegang karena sebenarnya apa yang dirasakan
ibu terlalu berlebihan dan dapat mempengaruhi psikologis ibu sehingga dapat
mengganggu pertumbuhan janin. Ibu mengerti dengan penjelasan bidan dan berusaha
untuk bersikap rileks.
4) Bidan
memberikan konseling mengenai cara mengatasi/mengurangi
kecemasan,kepanikan/emosional yaitu dengan mengajari ibu hamil memahami apa
yang sebenarnya sedang dialaminya, sehingga dapat dicari jalan keluar untuk
masalahnya. Serta mengajari ibu teknik relaksasi dan napas dalam untuk mengurangi
ketegangan sehingga membuat perasaan ibu lebih nyaman. Ibu mau bercerita kepada
bidan dan belajar teknik relaksasi.
5) Menganjurkan
klien istirahat ditempat tidur untuk mengurangi intesitas kecemasan. Mengatur
posisi pasien senyaman mungkin, posisi yang tepat mengurangi kepanikan dan
kecemasan yang dialami. Klien berbaring ditempat tidur.
6) Memotivasi
ibu untuk menambah asupan gizi/nutrisinya, makan-makanan yang bergizi seperti
sayur-sayuran hijau, daging, telur, ikan dan kacang-kacangan, maupun buah-buahan
sehingga perkembangan janin dalam kandungan dapat optimal. Ibu bersedia untuk
menambah asupan nutrisinya.
7) Dengan
kondisi kehamilan ibu saat ini, apabila bidan belum bisa menangani masalah yang
dihadapi ibu hamil tersebut ibu dianjurkan untuk konsultasi kepada dr. Suharto
SpKJ. Ibu mengerti dan bersedia untuk berkonsultasi pada dr. Suharto SpKJ
apabila kondisi emosional dan kecemasannya belum bisa teratasi.
3. Contoh Asuhan
Kebidanan Pada Ibu Hamil dengan Depresi
Seorang ibu hamil, Ny.
“X” usia 23 tahun dengan umur kehamilan 8 minggu datang ke bidan Asri.
Data Subjektif
Keluhan utama : Ibu
mengatakan cemas dan takut, serta sulit tidur. mengeluh takut dan cemas
terhadap kehamilannya. Ibu mengatakan sulit tidur dan nafsu makan berkurang.
Data Objektif
1.
Pemeriksaan Fisik
- Keadaan
Umum :
lemas
- Kesadaran
: CM
- Status
emosional : cemas
Tanda Vital
a.
Tekanan Darah : 100/70 mmHg
b.
Nadi
: 80 x/menit
c.
Pernapasan : 18
x/menit
d.
Suhu
: 37 0C
e.
TB / BB
: 154 cm / 50 kg
f.
Mata
: sklera putih, konjuntiva pucat
2.
Pemeriksaan Penunjang
Hb : 10,8 gr%
ASSESMENT
Diagnosis Kebidanan
Seorang primigravida
usia 23 tahun, G1P0Ab0Ah0, UK
8 minggu dengan depresi ringan
Masalah
Ibu sulit tidur dan
nafsu makan berkurang
Kebutuhan
a.
KIE pemenuhan nutrisi
b.
KIE istirahat
c.
KIE mengurangi rasa cemas
Diagnosis Potensial
Potensial terjadi
depresi berat atau psikosis
Masalah Potensial
Saat ini tidak ada
Kebutuhan Tindakan
Segera Berdasarkan Kondisi Klien
Mandiri
Saat ini tidak ada
Kolaborasi
Kolaborasi dengan
psikiater
Merujuk
Saat ini tidak ada
PLANNING
1)
Memberitahu ibu kondisinya saat ini kurang baik yaitu ibu mengalami gangguan
kejiwaan ringan.
Evaluasi : Ibu
mengerti dan mau menerima keadaannya saat ini.
2)
Menganjurkan ibu untuk mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung karbohidrat,
protein, vitamin dan zat besi seperti susu, telur, daging, sayuran hijau,
buah-buahan dan kacang-kacangan.
Evaluasi : Ibu
bersedia mengkonsumsi makanan seperti yang sudah dijelaskan bidan.
3)
Menganjurkan ibu untuk istirahat yang cukup minimal 1 jam di siang hari dan 8
jam di malam hari, serta mengurangi aktifitas yang berat.
Evaluasi : Ibu
bersedia untuk tidur cukup dan akan mengurangi
aktifitasnya di dalam maupun di luar rumah.
4)
Memberikan ibu support mental dengan meyakinkan ibu untuk tidak terlalu banyak
pikiran dengan mengalihkan pada kegiatan bersama keluarga, serta memberitahu
ibu untuk menceritakan semua hal yang dirasakan kepada orang terdekat ibu.
Evaluasi : Ibu
bersedia untuk melakukan kegiatan bersama-sama keluarganya menceritakan semua
perasaannya kepada orang terdekat yaitu suami
5)
Menganjurkan ibu untuk mengikuti kegiatan yang dapat merelaksasikan pikiran dan
hatinya agar rasa cemas dan takutnya berkurang, seperti Yoga atau pijat
refleksi.
Evaluasi : bersedia
mengikuti kegiatan Yoga atau pijat refleksi
6)
Menganjurkan ibu datang berkonsultasi dengan psikiater untuk mengetahui dan
mengatasi keadaannya lebih lanjut.
Evaluasi : Ibu
bersedia untuk berkonsultasi dengan psikiater
7)
Memberikan suplemen Fe “Hemavort” sebanyak 10 tablet, 1×1, diminum sebelum
tidur
Evaluasi : Ibu
bersedia meminum suplemen yang sudah diberikan bidan
sesuai aturan
8)
Meminta ibu untuk datang kembali 2 minggu lagi atau segera jika ada keluhan.
Evaluasi : Ibu
bersedia datang 2 minggu lagi atau jika ada keluhan